Kisah DURDI

Nama lengkapnya Durdiyev Durdi. Dia adalah enginer Rusia yg tinggal di Kairo Mesir sebagai mahasiswa al-Azhar. Suami saya dan Durdi ini seperti SYANN dan THABAQAH dalam perumpamaan Arab, (yg pengen tau cerita tentang siapa Syann dan Thabaqah ini, daftar ya, nanti saya ceritain, hehehe). Klop, klik, cocok dan nyambung. Jika tengah malam atau dini hari suami saya tiba2 tidak ada di rumah (kontrakan), bisa dipastikan dia sedang bersama Durdi, (eits jangan parno dulu, hehehe).

Seperi pepatah : BIRDS OF A FEATHER FLOCK TOGETHER, begitulah mereka adanya. Sama2 suka otak atik mesin. Durdi yg seorang enginer di negaranya, akhirnya memanfaatkan kemampuan dan hoby utak-utiknya itu dg membuka bengkel mobil khusus orang asing, termasuk WNI. Dan suami saya (yang juga suka otak atik mesin) bersama beberapa kawan MASISIR (MAhaSIswa MeSIR) membuka usaha rental mobil akhirnya bertemu dg Durdi.

Mereka bisa saling mengerti satu sama lain tanpa banyak bicara. Ketika sedang utak atik mobil itu mereka bisa saling memberikan alat2 atau bantuan yg diperlukan pihak yg lain tanpa intruksi. Mereka enjoy aja gitu, tengah malem atau dini hari berada di jalanan Kairo nderek mobil mogok. Juga blusu-an ke pasar2 loak Kairo hunting sparepart mobil. Terakhir, ketika mereka berpisah, karena kami pulang ke Indonesia, Durdi mengatakan, mahmaa nasiitu ad-dunyaa, musy ha-nsaak (lan ansaaka) yaa ‘Abdarrahmaan !!!. Meskipun aku melupakan dunia, aku tidak akan melupakan kamu wahai Abdurrahman !!! (gubrag gak sih?, hehehe).

Naah, itu tadi baru muqaddimah :). Inti cerita baru akan dimulai. Lewat suami saya lah si Durdi ini akhirnya berkenalan dg seorang MASISIR lain berasal dari Riau yg kita sebut saja Joko. (Jawa Riau kaleee :P)

Suatu ketika, ayah Durdi memberi kabar bahwa beliau akan menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Tentu saja sebenarnya Durdi ingin bisa bertemu ayahnya di tanah suci. Bukankah Mesir-Saudi hanya berjarak 2 jam pesawat terbang??? Namun karena satu dan lain hal, Durdi tidak bisa berangkat haji.

Tapi ternyata si Joko yg orang Riau itu berangkat haji. Setelah mengetahui hal itu, si Durdi pun menitipkan sesuatu kepada Joko untuk diberikan kepada ayahnya di Mekkah. Sayangnya, Durdi melupakan satu hal.

Singkat cerita, Joko yang orang Riau ketemu dengan ayahnya Durdi yg orang Rusia. Dan saat pertemuan itulah terungkap bahwa mereka berdua tidak memahami satu pun bahasa yg sama-sama mereka fahami sebagai alat komunikasi. Si joko tidak mengerti sama sekali bahasa Rusia, dan ayahnya Durdi tidak mengerti sama sekali bahasa Indonesia atau bahasa Arab.

Maka, selama setengah jam pertemuan, yg keluar dari mulut mereka dan bisa dipahami satu sama lain hanyalah 2 kata ;

Assalaamu’alaykum dan DURDI.

Jadi sebentar-sebentar mereka akan bilang, DURDI !, assalaamu’alaykum Durdi ! diam lagi, trus assalaamu’alaykum, Durdi, lagi, hahahahaha.

Mereka sama2 seorang muslim. Tuhan mereka sama. Nabi mereka sama. Al-Qur-aan mereka juga sama. Ibadah mereka pun sama. Tapi mereka tak bisa berkomunikasi karena bahasa yg seharusnya menyatukan mereka tidak dimengerti oleh mereka, atau oleh salah satu dari mereka.

Maka, MOS (moral of story) nya adalah :

1. Komunikasi itu dua arah. Jika salah satu tidak memahami, maka komunikasi tidak akan terjadi. Seperti Joko yang memahami bahasa arab, tapi ayahnya Durdi tidak memahaminya, komunikasi tidak berjalan.

Dan Allah yg maha mengetahui TENTU memahami dan mengerti semua bahasa yg ada di dunia ini. Tapi kita manusia, apakah mengerti bahasa yg dipakai Allaah?

Allaah bilang mundur, kita maju. Allaah suruh kita maju, kita malah mundur. Allaah menyampaikan kabar gembira kita malah sedih. Giliran Allah kasih ancaman kita malah ketawa2. Nggak nyambung. Tulal. Kongselt.

Jika Allah saja yg mengerti bahasa kita sedang kita tidak meng
erti bahasa Allaah, maka saat sedang shalat atau membaca do’a atau mengaji, kita TIDAK sedang berkomunikasi dg Allah, tapi kita sedang bicara sendiri, atau bahkan mungkin kita pun tidak mengerti apa yg sedang kita baca, kita ucapkan dan kita bicarakan. Na’uudzu bi-Llaah min dzaalik.

2. Allah SWT menyebut ummat islam sebagai ummat yg satu, bersaudara, saling mengokohkan seperti bangunan. Mungkinkah hal itu terealisasi tanpa kesatuan bahasa? bahkan ummat Indonesia yg hanya sekian persen dari ummat islam sedunia saja memiliki bahasa persatuan. Mungkinkah ummat islam tidak memilikinya? Mungkin nggak, muslim Rusia dengan muslim China dibilang bersaudara tanpa punya bahasa yg menyatukan mereka?

Maka semangat mempelajari bahasa arab adalah semangat vertikal, demi hubungan kita dengan Allaah, dan semangat horisontal, demi persatuan kaum muslimin di seluruh dunia. Allaahu Akbar !!! 🙂

Ukhtukum fii-Llaah

Emprit

LIMAADZAA


Ini adalah salah satu kata tanya dalam bahasa arab yg berarti UNTUK APAKAH atau KENAPAKAH. Tidak seperti kata tanya MAADZA = apakah, atau MAN =siapakah atau AINA = dimanakah dan MATAA = kapankah, pertanyaan dg LIMAADZA lebih sulit untuk dijawab karena membutuhkan pemikiran yang tidak sederhana.

Tapi, justru pertanyaan inilah yg pertama kali saya ajukan di setiap memulai sebuah kelas. Karena meskipun sulit, tapi pertanyaan itulah yg menjadi dasar, kunci dan muara setiap persoalan. Langkah-langkah kita akan selalu dipengaruhi oleh jawaban dari pertanyaan limaadza. Begitu juga dg persoalan belajar bahasa arab. LIMAADZA nata’allamu-l-lughata-l-‘arabiyyah? UNTUK APA/KENAPA kita belajar bahasa arab?

Jawaban anak-anak tentu saja beragam. Dan selalu saja muncul jawaban yg juga selalu tidak saya inginkan, KARENA MATERI ITULAH (bahasa arab) YG DIAJARKAN. Jawaban yg realistis, tidak muluk-muluk dan terkesan nrimo.

Maka mulailah si emprit berkicau, kekekeke

Bahasa Arab memang hanya salah satu dari sekian bahasa yg ada di dunia. Tapi sebagai seorang muslim, bahasa arab menjadi bahasa utama yg seharusnya diketahui dan dipelajari. Karena seorang muslim "qad yastaghnii ‘an" bisa tidak butuh bahasa yg lain, tapi tidak bisa tidak butuh bahasa arab, (la yastaghnii ‘an), bahkan terhadap bahasa ibunya sekalipun.

Bukankah suatu bahasa digunakan untuk berkomunikasi? Maka keberadaannya sebanding dg ada tidaknya lawan komunikasi. Jika ada lawan komunikasi maka bahasa dibutuhkan, dan jika tidak ada lawan komunikasi maka bahasa pun tidak dibutuhkan.

Lalu siapakah lawan komunikasi yg selalu ada dan menuntut kita untuk selalu berkomunikasi dgNYA minimal 5 kali dlm sehari? Dialah ALLAH SWT yg mewajibkan sholat 5 waktu dalam sehari yg oleh para ulama disepakati tidak boleh tidak memakai bahasa arab.

Seorang muslim berbahasa ibu indonesia misalnya, mungkin bisa tidak membutuhkan bahasa indonesia ketika lawan komunikasi dg bahasa indonesia tidak ada, tapi bisakah dia tidak berkomunikasi dg Allah SWT lewat sholat 5 waktu? Demikian pula dg muslim inggris, muslim prancis, muslim cina, muslim jawa dll.

Dan apakah disebut komunikasi jika salah satu lawan bicara tidak mengerti apa yg sedang ia bicarakan? atau bahkan tidak jelas apa yg sedang ia bicarakan dan apa yg sebenarnya ingin ia sampaikan????

Maka, satu-satunya alasan kenapa kita HARUS belajar bahasa arab adalah karena kita adalah seorang muslim. Sehingga siapapun, dimanapun, dan umur berapapun, yg mengaku sebagai muslim maka dia harus belajar bahasa arab. Maeskipun tidak hendak melanjutkan sekolah ke pesantren (jurusan bahasa arab), meskipun tidak hendak ke negara arab, bahasa arab harus dimengerti dan dikuasai oleh seorang muslim.

Jadi jawaban dari LIMAADZA nata’allamu-l-lughata-l-‘arabiyyah? adalah LI-ANNANAA muslimuuun. KENAPA kita belajar bahasa arab? KARENA kita adalah orang islam. (lho ko’ gitu thok jawabannya? hehehe)

AYO NGGUYU (TERTAWA)!!!

Ditengah ketegangan mencari "pohon jeruk" (yg pengen tahu maksud pohon jeruk ini, silahkan ke status saya di sini ), seorang sahabat mengantarkan obrolan yg bikin sakit perut saking lucunya. Ana share di sini, semoga teman2 terhibur. Ini tidak dimaksudkan untuk menjelekkan pihak manapun, hanya ingin menertawakan kebodohan diri sendiri, hehehehe

tolong…

Between You and Nurul Djauhari

Nurul Djauhari January 8 at 10:08pm Report

fi ana mnta tlg jawabkan pertanyaan berikut ya……

sejauh manakah pengajian usuluddin bisa di robohkan dr tradisi asalnya…?????

ana kok susah mencerna pertanyaan ini…..hehehe….maksih yoooo

Afiyah Mahfudhah Si Emprit January 8 at 10:19pm

wah, iki bahasa indo apa malay sih? ko ana juga rada nggak nyambung, hehehe

Pengajian? maksudnya majlis taklim ? hehehe kayaknya nggak kan?

Dirobohkan? dihapus gitu?

Tradisi asal? emang apa tradisi asalnya?

Nurul Djauhari January 8 at 10:23pm Report

hahahhhh….ana jg susa mencerna….pengajian tu kuliah atau belajar…diroboh itu ya di rubah dr tradisi asal…tradisi itu turots….ntahlah fi….ana jd ikut pusing hehehehh

Afiyah Mahfudhah Si Emprit January 8 at 10:24pm

hahahaha, emang yg nanya siapa?

Nurul Djauhari January 8 at 10:26pm Report

critanya ana lg S2 di universitas malaya ambil usuluddin bagian dakwah dan pembangunan insan….atau attarbiyah albasyariyah…..nah di kasih pertanyaan gitu sama profesor…malah bhasa aslinya bkn gitu…..melayu banget…..kwkwkkwk….

Afiyah Mahfudhah Si Emprit January 8 at 10:38pm

ooo gitu, wah masalah dzauq malaisy nih (sense) agak susah transfernya.

Gini aja, yg pean pahami gimana? emang kenapa ushuluddin mau dirobohkan????? (ini ana nulis masih sambil ketawa lho, dzauq malaisy lucu sih, hahaha)

Afiyah Mahfudhah Si Emprit January 8 at 10:43pm

ana jadi inget waktu di mesir tetanggaan sama anak malaysia., cowok, lumayan cakep, hehehe.

Suatu sore yg cerah (cieeee) dia ngetok pintu, kebetulan ana yg bukain, dia bilang, ada bekas tak?

huaaaaaa ana nahan ketawa sambil bingung, ini ganteng2 ko jadi pemulung, minta barang bekas, hahahaha

setelah lama dia berusaha memahamkan ana n gak berhasil, ana lapor ke anggota rumah, alhamdulillaah, ada yg tahu, bahwa bekas adalah WADAH.

Ana langsung ketawa lebih keras, karena ingat lagu isabela, "di dalam bekas yg berdebu" yg selama ini ana kira berbunyi BERKAS (cahaya), hahahaha

Nurul Djauhari January 8 at 10:49pm Report

huahuahauhaauahahhaaaaaa……..ana bisa ngakak lbh keras nih….kt suami ada apa????dah crita dia senyum2….

nah yg lucu lagi umi rohmatin anak 98 wkt awal2 di malay sekamar sama anak2 malay……eh di tanya…awak ada ubat gigi tak?? si umir spontan jawab gak punyaa…..aku gak pernah sakit gigi….padahal stllh lama bru dia tau ubat gigi itu artinya odol…hahhahhaha……kata umir skrg wah wkt itu psti di kenal pelit deh…hhahhhahh

Afiyah Mahfudhah Si Emprit January 8 at 10:56pm

eheheheheehehehe

uyuuuuuuuuuunk ana sakit peruuuuuut.

Afiyah Mahfudhah Si Emprit January 8 at 10:58pm

Yunk, kayaknya obrolan kita ini, kita publish aja deh, biar paada ketawaaaa

huuaaaaaaa, ayo postiiiiing

Ok, bagi yg punya pengalaman lucu seputar bahasa melayu, monggo dishare.

Ketika Rindu Bertasbih 2

Ketika Rindu Bertasbih 1 bisa dibaca di
sini

Jum’at malam, sekitar akhir Mei, sepulang ‘nonton’ banjir di mBlawi, kampung asal suami (yang memang langganan banjir stiap tahun), tiba-tiba suami bertanya "Gimana kalau kita ke Mantingan besok? Mumpung ada mobil (milik Adeknya) nganggur, jika besok umi nggak mau , ayah ga bisa janjikan kapan lagi bisa ngantar umi ke Mantingan".

"Trus gimana dg bensin dan lain-lainnya?"

"Umi ga usah mikir itu, Insya Allah ayah bisa usahakan, yang penting hati ummi segera bisa tenang, ga nangis terus".

Aaaah, ku peluk belahan jiwaku itu sambil menangis terharu. Dan selanjutnya adalah saat-saat yang mendebarkan. Awalnya aku nggak begitu mengerti dengan apa yang ku debarkan, tapi nanti Ust. Hidayat akan memberikan jawabannya.

Meski sudah membaca messagae dari Elly dan reply dari teman2 di KRB1 yang ku posting di FB, tapi ketidak pedeanku masih tersisa. Akhirnya ku putuskan untuk mencari teman yang bisa ku ajak ke Mantingan bersama. Pilihanku jatuh pada Jannah Ngawi (alumni Mantingan’98) yang bersuamikan gontorian juga yaitu Heri Stiawan (alumni 90 an) dan kami pernah sama-sama di Kairo, bahkan suaminya sekampus dg suamiku di Liga Arab, jadi lumayan akrab. Suamiku bukan gontorian, jadi aku nggak ingin beliau nanti merasa tersisih.

Hari Sabtu pagi, sekitar jam 9, kami berangkat menuju rumah Jannah di Ngawi. Tapi baru sampai daerah Babat, sekitar 1/2 jam dari Lamongan, tiba-tiba mobil berhenti tanpa sebab. Suami tidak mau ambil resiko dan akhirnya kami kembali ke Lamongan untuk memastikan keadaan Mobil. Dan setelah Tehnisi Langganan Terpercaya keluarga kami menyatakan bahwa mobil siap dibawa ke Ngawi, kami kembali berangkat. Yang menarik adalah, Bapak tehnisi itu sempat hampir menitikkan air mata haru mendengar tujuan kami ke Mantingan. Deg-degan di hatiku semakin tidak mau hilang. Apalagi, beberapa saat setelah itu ada sms masuk, "jadi kamu ke mantingan mau ta’ziyah atau….?" yang ku jawab "Entahlah, dinamakan ta’ziyah, sudah kelamaan, poko’e melegakan hati dan mengobati kekecewaan….."

Alhamdulillah perjalanan lancar, berhenti 2 kali untuk ishoma dan akhirnya kami sampai di rumah Jannah sekitar jam 4 sore, setelah kesasar lumayan jauh karena ternyata Jannah pindah rumah. Deg-degan selama dalam perjalanan berubah menjadi tetesan air mata, ketika aku menceritakan ke Jannah tentang tujuanku ke Mantingan. Dan ternyata aku tidak salah memilih Jannah, karena selain suaminya yang sudah akrab dengan suamiku, ternyata Jannah juga belum ketemu Bu Taji (Istri Ustd.Sutadji alm) semenjak pulang dari Kairo. Beberapa kali ke Mantingan, tapi selalu tidak bertemu Ust.Sutaji dan istri. Dan ketika beliau meninggal, Jannah dalam keadaan kurang sehat jadi belum sempat ta’ziyah.

Setelah semuanya siap, kami segera berangkat ke Mantingan. Baru beberapa menit meninggalkan rumah Jannah, tiba-tiba aku merasa nggak enak, ada yang tidak sreg di hati ini, ternyata suasana jalan yang gelap menjadi penyebabnya. Bagaimana aku bisa melampiaskan kerinduanku dalam suasana gelap seperti ini? Tapi besok pagi Jannah dan suaminya ada acara, jadi kalau ke Mantingan besok pagi mereka nggak bisa menemani. Akhirnya, sepanjang jalan aku berusaha menikmati, meski susah sekali.

Benar saja, begitu mobil memasuki daerah penginapan untuk tamu yang berkunjung ke pondok, yaitu Wisma La Tansa, aku tak dapat menyembunyikan kekecewaanku. "Yah, umi gak puas melihat nih, gelap!". "Ya sudah, besok pagi kan kita bisa balik kesini lagi!. "Bener? cihuiiiii, makasih ya Yaaah!, love you!(hehehe, sudah diatas 17 tahun semua tho, kekeke). Tapi meski gelap, aku masih berdecak kagum n nggumun (Inikan istilah Pak Taji kalo khutbatul arsy, pak Taji, miss uuu!) melihat dan membayangkan bagaimana dulu sawah yang biasa kita jadikan tempat kemah dan jurit malam berubah menjadi tempat semegah ini, subhanallaaah.

Dan pertemuan dengan Bu Taji sudah bisa ditebak isinya. Nangiiiis melulu, karena mendengar cerita tentang beliau yang sering menanyakan ku, bahkan ketika beliau dalam keadaan sakit parah. Alhamdulillah ada Jannah dan suaminya, jadi bisa mencairkan suasana. Selanjutnya kami ke Ust. Hidayatullah Zarkasyi. MA, pengasuh pondok. Setelah mohon maaf karena baru bisa sowan, ku sampaikan tujuan utama kedatanganku ke Mantingan. Saat itulah Ust. Hidayat berkata kepada suamiku yang ternyata adalah jawaban kenapa aku deg-degan sejak keputusan mau ke Mantingan. "Sesekali antarkan Afiyah ke sini, karena anak gontor itu, dengan guru/teman sesama gontor dan pondoknya, itu seperti dengan pacar". Ada-ada saja Pak Hidayat, tapi ko’ benar ya. Persis seperti yang barusan aku rasakan. Apa mungkin jg karena hampir 13 tahun ga ketemu ya. Wallahu A’lam.

Selanjutnya, karena masih ada satu lagi buah tangan yang ku bawa dari Lamongan, kami memutuskan untuk mendatangi satu orang lagi. Awalnya mau ke Ust Ma’ruf, direktur pondok yang baru, tapi kemudian rencana berubah menjadi ke Mantingan 3, dengan tujuan Ust. Setiawan Lahuri, yang pernah sama2 di Kairo, s2 nya juga di Liga Arab dan istrinya adalah Maya, teman Jannah semarhalah, alias alumni Mantingan 98.

Aku yang memang baru kali itu masuk ke Mantingan 3, hanya bisa ber subhanallah, ternyata masuknya cukup jauh dan benar-benar di tengah sawah. Karena malam hari, jadi ingat Camelot di film The First Knight (lebay ga ya). Sayang sekali, begitu sampai di pintu gerbang kami mendapatkan jawaban yang mengecewakan ketika suamiku berkata kepada penjaga gerbang : "Kami mau menemui Ust. Setiawan". "Ooo, beliau sudah nggak disini lagi, bliau sekarang di ISID!". Akhirnya, karena anak-anak sudah pada rewel (malah ada yg sudah tidur), kami pun memutuskan pulang ke rumah Jannah di Ngawi.

Paginya, setelah pamitan dg Jannah sekeluarga, kami bertolak ke Mantingan lagi. Aku merasa menjadi pemeran utama, jadi aku harus ‘diselesaikan’, hehehe. Selain ingin bernostalgia, aku juga ingin memperlihatkan ke anak2 tentang sekolahan ummi mereka. Dan sejak berangkat mereka tahunya kami akan ke sekolahan ummi. Jadi mereka harus menuntaskan tujuan mereka juga toh, karena yang mereka lihat semalam itu belom sekolahan ummi. Maka mobil kami lewatkan ke wisma lagi, poto di tulisan wisma itu, trus melaju pelan-pelan ke arah bapenta (bagian pnerimaan tamu). Karena si kecil tidur, maka suami nungguin di mobil, sedang aku dan ke dua anakku masuk ke pondok lewat bapenta.

Begitu pintu bapenta ku buka, "Naaah ini lho sekolah ummi….!". Oooo, gedung kuwait, ya Allaaah, air mata ini sudah menggedor-nggedor ingin keluar. "Wah, sekolah ummi besar ya, aku mau dong sekolah disini. mana kelas ummi? ummi tidurnya di mana, mandinya? makannya?" begitulah pertanyaan anak2 ku yang terpesona melihat langsung sekolahan umminya. kami bergandengan tangan menyusuri gedung khadijah, gedung bosnia lalu masjid. Suasana tenang karena jam masuk kelas, sesekali kami berpapasan dengan ustsdzah yang naik sepeda pancal. Aaaah, duduk di pelataran masjid memandang langit, bayangan Ust.Sutaji yang tersenyum membuat pertahanan mataku jebol. Maka menyusuri gedung syanggit, gedung santiniketan, melewati gedung palestina lalu masuk ke kopda (koperasi dapur) alias tempat makannya santri, adalah sesak di dada yang sangat nikmat, entahlah bagaimana aku menamai rasa itu, mungkin seperti yang pernah ku tulis di sini.

Keluar dari kopda aku terpaku pada sebuah tulisan, ila Llahi nasyku bi anna fiina maruuman sa nantahi bihi ila khusnil khitam (Kepada Allah kami mengadu, bahwa di dalam jiwa kami ada asa yang ikin kami tuntaskan dengan sebaik-baiknya). Dan aku pun tergugu. Lalu ketika mataku melihat tulisan (gedung) Maghrib dan (gedung) Mesir, aku tak mampu melanjutkan perjalanan. Sambil duduk di pinggir jalan aku serasa ‘hilang’. Anak-anak ku bingung dan hanya bisa bertanya, "kenapa ummi menangis?". Tiba-tiba sebuah sepeda motor lewat dan sosok yang mengendarainya adalah…… ust. Fadli. " Ustaaaad!!!". "Afiyah ya? Ya Allah, kapan datang? gimana kabarnya?…..dst " Dan seperti menemukan muara, air mataku semakin deras mengalir. Ust Fadli nampak menahan air mata juga, entah apa yang ditangisinya, mungkin kasian lihat aku nangis sendirian, jadi ikutan, hehehe,piiiis ya Ust.Fadli!)

Selanjutnya adalah mengintip kamar mandi gedung aisyah, lalu kembali ke gedung bosnia karena pengen lihat mantingan 2. Sampai tangga, hp berdering, si kecil menangis. Akhirnya setelah menengok mantingan 2 dari atas, kami kembali ke bapenta melewati gedung aisyah, lorong kuwait, duduk sebentar di pinggir jalan ke gerbang trus ke bapenta.

Sampai di mobil, ku peluk si kecil dan suami, "Terimakasih ya, ummi puaaaaaas, alhamdulillah! dan kamipun bergegas pulang ke Lamongan. Selamat tinggal Mantingan, pacarku, sampai ketemu lagi ya.

Ketika Rindu Bertasbih 1

Ini kisah nyata tentang kerinduan yang menemukan jalannya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Kadang takdir Allah memang tak terduga bahkan seringkali tidak sejalan dengan keinginan manusia. Yang sudah baca di FB, memang ini posting ulang agar kawan2 di MP juga bisa menikmati. Selamat membaca!

Malam itu, pertengahan Mei, sekitar jam 2 dini hari, mungkin akan menjadi malam yang tak kan terlupakan. Ketika sambil nyuci (tepatnya nungguin mesin cuci), iseng-iseng aku membuka fb suamiku karena YM yang aktif memang YM suami, tp fbnya jarang dibuka, dan awal join di fb aku pernah numpang fb suami. Sebuah message dari salah seorang santri Kharisma (sebutan untuk alumni gontor putri mantingan tahun 1997), Ely Nurlaily Badriyah dari Jakarta menjadi penyebabnya.

Detak jantungku tiba-tiba serasa berhenti sejenak, lalu air mataku tak terbendung lagi. Sedih, kecewa, marah dan entah perasaan apa yang membuatku tergugu di depan axioo ku. Sedikit rasa gembira menyelinap. tapi rasa sedih, kecewa dan marah tetap mendominasi. Kalau saja berandai-andai tidak dilarang, karena merupakan pintu syetan, mungkin segala andaikata akan keluar dari pikiranku. Sambil terisak aku terus beristighfar dan meyakinkan diri dengan "qaddaraLLohu wa ma sya’a fa’ala" (Allah telah menakdirkan dan melakukan apa-apa yang dikehendakiNya).

Hal pertama yang membuatku tersentak adalah, message itu ditulis dan dikirim Ely di bulan februari, dan aku baru membacanya di bulan Mei, atau sekitar 3 bulan setelahnya, itupun secara tidak sengaja. Hal kedua, dan ini yang paling menimbulkan rasa kecewa dan marah (pada keadaan dan diri sendiri) meskipun ada sedikit perasaan senang, adalah isi dari message itu. Dan inilah message itu, kawan!

Elly N Badriyyah February 11 at 11:17pm

afiah…kt ulfa hanim nama anti dipanggil2 ust. sutadji ktk beliau skt parah…tolong jenguk beliau, setidaknya tnya kbr beliau by phone….krn beliau sangat rindu sm santri2nya yg udah lama ninggalin beliau. Ana udah kesana sekalian nyerahin dana sumbangan dr arek kharisma. Silahkan klik catatan ana yg "menjenguk Ayahanda Ust. Sutdji Tadjudin MA" Beliau dan bu Tadji sangat haru dan menangis membaca surat yg ana bw yaitu perwakilan suara hati anak2 kharisma. Ktnya kehadiranku membuat bangkit dan semangat bpk……so pliiiss…

Ya, bulan februari, Ust. Sutadji Tajuddin. MA, direktur pondok gontor putri Mantingan masih sakit, dan bulan Maret beliau sudah pulang ke rahmatuLLah. Tapi yang membuatku tergugu malam bulan Mei itu bukan sebab itu, karena berita meninggalnya Beliau sudah ku ketahui sebelum membaca message itu. Yang membuatku sedih, kecewa, marah disamping rasa senang adalah kenyataan bahwa Ust Sutadji ternyata masih mengingatku, padahal kekhawatiran bahwa beliau tidak mengingatku menjadi salah satu diantara alasan yang sempat menghalangiku untuk sowan menemui beliau jauuuuh sebelum beliau sakit.

Kawan-kawan Kharisma tentu tahu apa arti ust Sutadji bagiku, si emprit. Pelajaran Mutholaah (reading dalam bahasa arab) yang beliau ajar menjadi pelajaran favoritku karena seringnya aku disuruh takallum (Talking). Dan ketika si emprit terkena panah cinta monyet pada ust Z (PLMPM), bahkan beliau secara khusus mengganti materi mutholaah dengan artikel dari majalah arab yang berjudul (kalau ga salah) "al hubbu al maktum" (cinta terpendam) (udah kayak kepiting rebus aku waktu disuruh baca artikel itu, huaaaaaaa).

Lalu ketika jadi bagian bahasa dan sering konsultasi tentang bahasa arab, aku seperti bisa merasakan ‘hawa’ Mesir dari uslub (tata bahasa) beliau yang di kemudian hari, ketika aku berada di Mesir, hawa itu benar-benar aku rasakan. Awal-awal di Mesir, aku seperti mendengar suara beliau di mana-mana.

Dan ketika amaliyah tadris (ujian praktek mengajar), dimana aku ditunjuk untuk mengawalinya, sehingga ketika amaliyah disaksikan oleh seluruh teman semarhalah dan seluruh asatidz pembimbing kelas VI yang setelahnya aku disidang, juga oleh seluruh teman semarhalah dan semua asatidz pembimbing, mereka semua ‘menyerangku’ (ya iyalah, kan memang disuruh naqd (mengkritik), hehehe), bahkan Ust. Mukhlis yang ku harapkan dukungannya (ehm ehm) malah habis-habisan menaqd-ku, dan saat itu hanya Ust Sutadji lah, the one and only, (sebagai musyrifku) yang membelaku. Ingiiiiiin rasanya saat itu (kalau boleh) aku memeluk beliau, menyempurnakan perasaan dilindungi dan dibela oleh seorang Bapak (Pak Tadjiiiiiii, senyuman hadlratak nggak nguatiiiin!)

Sejak di Kairo, aku sudah berencana, begitu aku kembali ke indonesia, aku harus sowan ke Mantingan, menemui beliau. Ternyata…… dititik inilah aku harus meyakinkan diri tentang qaddarallohu wa maa sya’a fa’ala. Kepulangan ku yang pertama, setelah menyelesaikan s1 tahun 2001 adalah untuk menyempurnakan perjodohan yang telah disepakati keluarga sekitar setahun sebelumnya. Jadi, begitu aku sampai indonesia aku langsung dipingit (maksudnya ga boleh pergi jauh-jauh). Dan setelah menikah, ternyata urusan sowan ini menjadi tidak sesederhana yang ku bayangkan. Ada saja halangannya, sampai kemudian aku kembali ke Kairo untuk (mencoba) melanjutkan s2 bersama suami.

Dan akhirnya, ketika tahun 2007 aku pulang lagi ke indonesia (ala dawam), aku pun kembali berencana untuk sowan ke Mantingan menemui beliau. Namun tiba-tiba perasaan itu muncul. Setiap kali melewati Mantingan (lumayan sering, karena lumayan sering pula kami ke solo (adik suami mondok di ngruki) atau jogja (pondok mu’allimin) atau surakarta (pondok isy karima) dalam rangka mengurusi adik-adik yayasan panti asuhan Lamongan yang disekolahkan disana) dan suami bertanya "Gimana, jadi mampir ke Mantingan nggak?", aku selalu menggeleng. Ada ketakutan yang menghalangiku. Setelah sekian tahun (sekitar 13 tahun) tanpa kontak sama sekali, akankah Ust. Sutadji masih mengingatku? Mungkin ust. Sutadji adalah guru special buatku (dan buat setiap orang dari santri Mantingan), tapi apakah aku, si emprit ini juga santri spesial buat beliau?

Tiba-tiba aku takut, jika aku sowan dan bertemu beliau, beliau akan bertanya "Man anti?" (kamu siapa?) sambil menampakkan wajah bingung. Aku juga takut jika kedatanganku akan mengganggu beliau yang pasti sibuk sekali, bahkan mungkin sekali beliau tidak bisa menemuiku, dan kedatanganku yang berbekal kerinduan itu akan terabaikan. Aku berfikir, "Man ana baina haulai tholibat?" "Siapalah aku, si emprit yang kecil ini, diantara sekian ribu santriwati yang datang dan pergi dalam kehidupan beliau? Apalah istimewanya si emprit ini dibanding santri-santri yang lain yang pastinya lebih istimewa? Ah, aku ternyata takut menghadapi kenyataan yang mungkin tidak akan seindah yang kubayangkan. Ya, aku takut kecewa.

Dan ketakutan itulah yang akhirnya menjadikanku hanya berani berpesan pada suami, "Yah, tolong jika nanti melewati Mantingan, pelan-pelan jalannya, biar Umi bisa sedikit mengobati kerinduan dengan Mantingan dan Ust. Sutadji, meski hanya sambil lewat!". Sampai ketika ada kabar bahwa beliau sakit dan akhirnya meninggal dunia, ketakutan itu masih bercokol dan menguasai diriku. Sedih, tentu saja. Harapan untuk berjumpa dan disenyumi beliau di dunia ini pupus sudah.

Tapi malam itu, ketika membaca message Ely itu, rasa sedih itu bercampur kecewa, juga marah. Bagaimana bisa aku mengikuti sebuah rasa takut yang sebenanrnya tidak ada. Rasa yang sesungguhnya hanya ada dalam bayanganku sendiri. Jika di dalam sakit beliau masih mengingatku, apatah lagi ketika beliau masih sehat dulu. Aaaaaah seandainya………. Aaaah Allaaaaaaaaaah, astaghfirullaaaaaaaaaaaah, la haula wala quwwata illa billah.

Untuk Ely, curhatan ini sekalian klarifikasi ya, mungkin anti bertanya-tanya ko’ si emprit ga balas message atau ga ada reaksi?!. Tapi yang pasti ana berterimakasih sekali, jazakillah khoiron.

Dan untuk yang lain yang bertanya-tanya (kalau ada, hehehe, yakin ada deh) ko’ emprit jarang nongol di fb. Aduh gimana ya….. internet di rumah sih unlimited (meskipun kadang lelet juga), tapi ternyata waktunya yang limited, biasalah Ibu RT dengan 3 krucil. Sesekali nengok FB banyak banget updet, kalap ngikutin updetan n nglayap kemana-mana sampe lupa ngupdet FB sendiri n tau-tau anak2 sudah pulang sekolah, atau pulang ngaji, suami pulang kerja, minta ini itu, ngerjain ini itu, jadi harap maklum ya, yang ibu-ibu pasti maklum lah, hehehe.

Ketika Rindu Bertasbih 2 bisa dibaca di
sini

Menclok Lagi

Yang pernah baca profil saya mungkin masih ingat dengan kata-kata ini : Saya hanyalah "seekor burung emprit" yang sedang menclok di ranting pohon bernama internet.

Sekitar tahun 2004 sampai 2007 emprit menemukan ranting internet (yang 24 jam unlimited dengan biaya terjangkau), dan akhirnya menclok disana dan membuat sarang di Multuply dengan nama Persinggahan Si Emprit.

Kenyataan bahwa ranting internet lebih banyak ditemukan di Cairo daripada di Indonesia (di lingkungan emprit) membuat emprit tidak berani menghayal akan dapat menclok lagi di ranting internet.

Dan memang benar, setahun pertama di indonesia, emprit hampir-hampir tak pernah menclok di internet. Kesibukan beradaptasi dengan kehidupan bersama mertua, disambi mengajar, menjadi penyebabnya.

Tahun kedua, ketika lahir anak ketiga dan cuti dari mengajar, emprit menclok lagi di internet lewat hape. Lumayan. Meskipun hanya bisa pasif dan terbatas tapi sedikit mengobati kerinduan dan menghilangkan kejenuhan.

Kini, menjelang tahun ketiga, tanpa disangka-sangka, emprit mendapat kesempatan menclok lagi di ranting internet, 24 jam, unlimited. Alhamdulillah.

Dan kembali emprit harus berkata, subhanallah….. internet!